/// Dirujuk oleh Dinkes Mura
MUSI RAWAS SUMATERA SELATAN
Dugaan masih adanya masyarakat musi rawas yang menderita gizi buruk terjadi pasalnya seorang balita warga Desa Bingin Makmur Satu Bingin Teluk Kecamatan Rawas Ilir, Doni (2) yang saat ini telah mendapatkan perawatan dari RS Sobirin secara intensif yang sebelumnya mendapatkan rujukan dari Dinkes Mura.
“Saya sudah mendengar kalau ada seorang balita di bingin te;luk rawas ilir diduga terkena gizi buruk, saat ini sudah mendapatkan perawatan di RS Sobiirn yang sebelumnya mendapatkan perawatan di Pukesmas Rawas Ilir. Untuk diketahui apakah memang terkena hgisi buruk atau malah akibat dari penyakit lain kita tunggu hasil dari laboratorium RS Sobirin.”Ujar Kepala Dinas Kesehatan Mura Drg Hj Maimunah MS MM kepada Koran ini.
Dikatakan Maimunah, Untuk saat ini fihaknya menduga kalau Balita ini terkena Gizi buruk tetapi untuk kebenarannya dapat dilihat dari hasil laboratorum. Dilanjutkan Kandinkes mura ini Gizi buruk merupakan salah satu akibat dari dampak kehidupan saat ini dan banyak factor yang mempengaruhi.”yang dinamakan gizi buruk yakni anak tersebut kekurangan asupan gizi yang diberikan oleh orang tuannya. Tetapi juga ada penderita gizi buruk yang dikarenakan penyakit bawaan atau terserang penyakit sehingga balita tersebut kurang mendapatkan asupan gizi atau memang tidak mau makan sehingga gizi pada anak tersebut kurang.”ujar kadinkes
Dilanjutkan Maimunah, gizi buruk diakibatkan beberapa factor yakni Faktor kemiskinan karena orang tua balita ini tidak mampu untuk menyediakan asuoan gizi cukup untuk anaknya. Selain itu karena ketidakpedulian orang tua terhadap gizi anaknya dan penyakit yang diderita oleh anaknya.”penyakit bawaan orang tua bisa menular kepada anaknya dan menyebabkan gizi buruk. Salah satu contoh yakni kalau orang tua TBC kemungkinan akan menular kepada anaknya dan berdampak pada gizi yang diterima oleh tubuh anaknya.”ujarnya
Bagaimana untuk mengatasi gizi buruk ini, Maimunah mengungkakan kalau menag anak tersebut menderita gizi buruk maka cukup diberi supplement gizi atau makanan, tetapi jika dalam waktu tertentu anak tersebut belum ada peningkatan maka dimungkinkan ada penyakit lain yang membuat anak tersebut menderita gizi buruk.”kalau setelah didiagnosa memang menderita gizi buruk maka pemkab mura akan membiayai pengobatanya, tetapi jika nantinya ada penyakit lain yang menyebabkan keadaan bayi tersebut maka dinkes akan melihat dari berbagai sisi.”demikian kata Kadinkes mura ini.
Sebelumnya, Doni merupakan anak pertama pasangan Teguh (28) dan Uli Lilis Suryani (28). Doni diduga menderita gizi buruk diketahui saat dibawa ke Rumah Sakit (RS) Dr Sobirin. kondisi Doni saat di RS Sobirin dapat dilihat kulitnya keriput dan bersisik, serta mata sebelah kirinya mengeluarkan darah, bahkan berat tubuhnya hanya 6,3 Kg sehingga harus diberikan perawatan intensif dari Tim medis Dr RS Sobirin.
Menurut pengakuan keluarga Doni, Rika (25), sejak satu bulan terakhir tubuh doni mengalami perubahan dan mulai sakit-sakitan, sebelum dibawa ke RS doni sempat dibawa ke Pukesmas, Mantri dan dokter.“menurut dokter yang mengobatinya kalau Doni menderita gizi buruk, tapi kami masih belum mengetahuinya secara pasti, saat itu kami hanya diberikan obat-obat dan sirup saja. Karena Doni tidak sembuh juga maka berusaha mengobatinya dengan pengobatan kampung,” ujarnya.
Diterangkannya, walaupun sudah berusaha berobat ke Dokter dan pengobatan secara tradisonal, kondisi tubuh keponakannya terus menurun bahkan terus melemah dan semakin kurus. “Yang terkahir Doni sakit kemarin (Senin, red), tapi kami curiga ada benjolan sebesar jari jempol orang dewasa di matanya, semalam benjolan itu mengeluarkan cairan warna merah,” ungkapnya.
Melihat kondisi seperti itu, lanjutnya, keluarganya lalu membawa Doni ke Rumah sakit walaupun tidak mempunyai uang untuk biaya berobat. “Kami ini tidak mempunyai kartu Askeskin, jadi kami takut untuk berobat ke rumah sakit, karena mendesak lalu kami minta surat keterangan miskin kepada Kades supaya biaya pengobatan bisa gratis,” ucapnya sedih seraya menghapus air matanya.
Rika mengharapkan, jika ada dermawan yang ingin membantu keponakannya, karena kondisi ekonomi orang tua Doni saat ini tidak ada pekerjaan sehingga tidak ada uang untuk biaya rumah sakit. “Kami berharap ada dermawan yang dapat membantu kami mengobati Doni supaya sembuh dari penyakitnya,” harapnya.
Sementara itu, salah seorang dokter RS M Sobirin, Dr Miftahul Hulummi mengungkapkan dirinya belum dapat memastikan Doni mengalami gizi buruk. Namun dilihat dari kondisi pasien saat ini, memang ada kemungkinan menderita gizi buruk. “Kita menunggu hasil laboratorium dahulu, baru dapat dipastikan penyakit apa yang diderita Doni, dan saat ini juga Doni sudah dirawat di ruang Melati RS Sobirin supaya lebih mudah untuk mengecek kondisinya,” ujarnya.
Idealnya, kata Miftahul, berat badan anak usia dua tahun antara 10-12 kg. Selain itu ciri-ciri dari gizi buruk itu sendiri kulit-kulitnya terkena penyakit dan keriput seperti orang yang sudah tua, dengan demikian kondisi fisiknya melemah “Sekali lagi kita belum dapat memastikan dia menderita gizi buruk atau bukan belum ada pemeriksaan dari laborlatorium, bisa saja tubuhnya kurus karena penyakit bukan gizi buruk, kita tunggu saja hasil diagnosanya,” Demikian kata Kepala RS Sobirin ini.(Candra/Radar Pat Petulai)
Tiga Balita Gizi Buruk Kritis
Lebak, Banten
Tiga anak usia bawah lima tahun (balita) penderita gizi buruk di Kabupaten Lebak, Banten kondisinya kritis dan masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Adjidarmo Rangkasbitung.
“Ketiga balita yang dirujuk itu kondisinya parah, bahkan sudah stadium III akibat terserang penyakit penyerta,” kata Kepala Bagian Humas RSUD dr Adjidarmo Rangkasbitung, Kabupaten Lebak Hj Rostarina, Selasa.
Ia mengatakan hingga saat ini balita penderita gizi buruk di sejumlah kecamatan terus bertambah akibat kemiskinan serta rendahnya pendidikan.”Mereka dibawa ke rumah sakit dengan kondisi sangat memprihatinkan, sehingga petugas medis bekerja keras untuk menyelamatkan jiwa pasien penderita gizi buruk tersebut,” katanya.
Sebagian besar penderita sudah mengidap penyakit penyerta seperti TB, diare, demam tinggi, paru-paru dan sesak napas serta kelainan jantung.”Selama ini hampir setiap hari kami menerima pasien gizi buruk dengan kondisi sangat parah,” katanya.
Kata da, ketiga balita penderita gizi buruk yang kritis tersebut yakni Sep (3 bulan) warga Kecamatan Cikulur dengan berat badan 3,2 kg.
Kemudian Nur (1) warga Kecamatan Rangkasbitung dengan berat badan 7,5 kg, serta Sen (10 bulan) warga Kecamatan Cileles dengan berat badan 5,8 kg.”Seluruh balita gizi buruk yang dirawat itu berat badannya tidak sesuai dengan usianya, sehingga perlu pemulihan gizi dan pengobatan penyakitnya,” katanya.
Sementara itu, Mad (45) orangtua balita gizi buruk mengatakan dirinya pasrah dengan kondisi anaknya yang terbaring di rumah sakit karena tidak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari.
Apalagi, saat ini dirinya menganggur, sehingga tidak mampu memberi asupan gizi yang baik terhadap anak keduanya itu.
Kepala Bidang Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak Tata Sudita mengatakan sampai saat ini penanggulangan kasus gizi buruk harus melibatkan semua komponen, baik kalangan pemerintah, pengusaha dan tokoh masyarakat.”Saya kira tidak akan tuntas penanganan gizi buruk jika hanya dibebankan kepada petugas kesehatan,” katanya. (17/09/08 01:30/ANTARA News)